Mengeja Waktu di Oemah Pitulangan Jogja

Tidak ada yang tahu dengan pasti apa yang akan terjadi esok hari. Semua menjadi milik sang waktu, dengan berbagai kehendak waktu, berbagai kejadian hadir dengan kejadian-kejadian yang harus dihadapi.

Oemah Pitulangan, dirancang sebagai tempat untuk “mengeja” berbagai kejadian, mencoba menyusunya kembali sehingga bisa membacanya, untuk memberi semacam kompas yang lebih baik lagi bagi kehidupan.

Bangunan kayu dengan kombinasi bata merah, dengan halaman yang tidak begitu besar. dinaungi pohon sawo, dan berbagai pohon langka memberikan nuansa teduh.

Terletak di Kampung Joyopranan Kota Gede, wilayah yang lekat dengan sejarah Mataram Islam, runtuhan tembok kraton Mataram Kota Gede yang berjarak sepuluh (10) langkah dari Oemah Pitulangan menjadi saksi,betapa waku telah memberikan berbagai kejadian yang denganya kita “dipaksa” untuk mengeja, mencari tahu apa yang sesungguhnya telah terjadi.

Filosofi Oemah Pitulangan Jogja

Menjadi suatu hal yang lazim dalam interaksi kehidupan bermasyarakat, kenyataan tidak sepenuhnya memperlihatkan hal-hal yang serba positif. Dinamika dalam masyarakat, apakah itu angka kejahatan, dalam arti seluas-luasnya, ataupun masalah-masalah yang berwujud sebagai konflik sosial, menunjukkan dengan sangat jelas, masih adanya tantangan dalam hidup bermasyarakat.

Keadaan tersebut tentu saja menimbulkan persoalan tersendiri. Upaya bangsa untuk bersegera menyelesaikan masalah-masalah mendasar terhambat dan sebaliknya, masalah baru muncul.

Oemah Pitulangan digagas untuk menjadi ruang bersama bagi siapa saja yang menaruh perhatian terhadap berbagai kejadian yang selalu terjadi hampir setiap waktu.

Foto bersama di Omah Budaya Pitulungan

HM Satriaya Wibawa selaku Direktur Program Oemah Pitulangan, menyatakan, “Sebagai bangsa, tentu tidak terlepas dari berbagai persoalan, sebagai warga tentu menjadi kewajiban untuk ikut terlibat secara bersama-sama berjejaring memberikan ide dan gagasan untuk mengurai berbagai persoalan bangsa yang dinamis seiring perjalanan waktu”.

Pada kesempatan yang sama Sigit Sugito, sebagai ketua panitia menegaskan “Mencari makna atas kejadian-kejadian yang ada, berusaha untuk menemukenali dari berbagai sisi dengan harapan bisa membersamai waktu dengan berbagai laku tindakan yang bisa memberi arti bagi kehidupan yang lebih baik lagi, menjadi bagian bagi siapa saja yang menaruh perhatian dan mencintai Indonesia”.

rumah-pitulungan

Bertepatan tanggal 30 September 2021, tanggal yang menandai sejarah kelam bagi perjalanan bangsa. Tidak untuk merayakan kejadian pada masa itu, namun untuk mengeja mencoba menemukenali dengan berbagai sudut pandang hari ini untuk merancang kehidupan yang lebih baik lagi. Oemah Pitulangan akan menyelenggarakan acara dengan tajuk “Meneguhkan Indonesia Dengan Berpijak Pada Nilai-Nilai Panca Sila”

Berbagai rangkaian acara akan dimulai tepat pada pukul 19.00 WIB diantaranya: pidato kebudayaan, pameran wayang, diskusi dengan tema “Meneguhkan Indonesia Dengan Panca Sila”, pembacaan puisi, serta permainan siter yang berkolaborasi dengan biola.

Dalam pelaksanaan acara pada kesempatan ini panitia mohon maaf hanya mengundang secara terbatas dan dengan tegas melaksanakan protocol kesehatan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Reply